September 10, 2017

Ketika... dokter spesialis kulit dan kelamin sama dengan dokter kecantikan?

Saya seringkali mendengar dan melihat bahwa orang-orang di sekitar saya suka menyamakan istilah dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK) dengan dokter kecantikan atau dokter estetik. Sebenernya orang-orang ini enggak salah 100% sih, karena mungkin memang slama ini kebanyakan orang tidak mengerti kalau istilah ini jauh berbeda. Tanpa sama sekali berusaha untuk menyudutkan profesi yang satu atau meninggikan profesi lain, kali ini saya akan sedikit memberi gambaran kenapa dokter SpKK tidak sama dengan dokter kecantikan maupun dokter estetik.

Dokter SpKK adalah dokter yang sudah menempuh pendidikan dokter spesialis selama kurang lebih 8 semester alias 4 tahun. Untuk bisa menjadi seorang residen (yaitu dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis), kita melalui proses yang cukup panjang, yaitu dari ujian tulis hingga wawancara. Ketika sudah diterima, kita akan menjalani pendidikan di RS pendidikan tertentu. Jadi jangan bayangkan kuliahnya hanya duduk dan menerima pelajaran, tapi yang namanya kuliah adalah menjalani setiap divisi atau stase untuk memenuhi kompetensi sebagai seorang SpKK.
Sebagai gambarannya, saya coba terangkan ya apa yang terjadi sehari-hari sebagai residen di kulit (ini mengacu pada tempat saya menuntut ilmu ya):

Pagi hari, biasanya ada acara ilmiah bersama konsulen (alias dosen). Acara ilmiah ini bisa berupa laporan kasus, referat, atau journal reading. Maju sebagai presentan laporan kasus/referat merupakan salah satu syarat di setiap divisi. Dan untuk membuat laporan kasus ini, kami harus bimbingan dengan konsulen, kadang bimbingan sampe malam atau pagi karena pembimbing kami juga dokter SpKK yang sibuk dan banyak pasien :)

Setelah acara ilmiah, kami memeriksa pasien di Poli Kulit sesuai dengan Divisi masing-masing. Ada beberapa divisi yang harus dijalani yaitu:
  1. Infeksi Bakteri dan Parasit. Di sini termasuk di dalamnya penyakit kusta alias lepra. Kenapa saya bold kusta atau lepranya? Ya karena saya bangga dong, siapa lagi spesialis yang bisa menangani kusta? Penyakit penuh stigma yang masih ada di Indonesia dan belum punah juga :(
  2. Infeksi Jamur dan Virus
  3. Alergi dan Immunologi
  4. Infeksi Menular Seksual. Yap, menjadi SpKK juga menangani penyakit2 menular seksual, termasuk yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja yang tidak sehat dan berbahaya. Kami juga bergerak di bidang edukasi untuk perilaku seksual kaum LGBT
  5. Dermatologi Anak
  6. Tumor dan Bedah Kulit
  7. Dermatologi Kosmetik. Oke, di sinilah mungkin kenapa kami sering disamakan dengan dokter estetik. Saya gak bilang salah 100%, karena kami memang belajar kosmetik juga kok. Mulai dari teorinya hingga prakteknya.
  8. Geriatri dan Non-Infeksi
Nah untuk menjalani satu divisi ke divisi lainnya, kita harus menjalani berbagai ujian. Baik ujian tulis mingguan, ujian kasus alias ujian pasien, sampai ujian komprehensif. Dan stelah itu kita harus menjalani ujian board, yang merupakan ujian kompetensi untuk menjadi dokter spesialis kulit. Ujian board ini diuji sama berbagai konsulen di seluruh Indonesia, karena ini bisa dibilang semacam ujian nasional. Seremnya pake banget, cukup membuat aku stres dan hampir gila menjelang ujian :D

Oh dan jangan lupa, untuk lulus pun kami harus penelitian dan bikin tesis! Dan kami juga harus publikasi ke jurnal nasional atau internasional sebagai syarat lulus. Yayaya..jadi bisa dibilang, sekolah spesialis itu cukup melelahkan dan perlu mental sekuat baja :D

Oke kayaknya cukup ya saya menjelaskan bayangan menjadi seorang spesialis kulit dan kelamin. Kalau kayak gini, rasanya udah jelas kalau dokter SpKK dan dokter estetik adalah dua profesi yang berbeda. Which one do you choose? Balik ke pilihan masing-masing ya kalo itu :D

Healthy skin is not a choice, its a way. Ciao and i'll see you in the next post anyway!