November 13, 2017

Ketika... apa itu eksfoliator? Samakah dengan peeling?

Kenapa saya tiba2 ingin membahas peeling?

Iyap. Saya tiba2 terinspirasi dengan banyaknya produk brand Korea yang sekarang ngeluarin banyak produk exfoliator dengan kandungan Glycolic Acid (slanjutnya saya singkat GA). Nah sbenernya ngaruh atau gak sih? Well produk ini sebenernya mengandung kadar GA sangat rendah, aman digunakan. Tapi untuk hasil lebih maksimal, lebih baik kamu melakukan peeling di dokter spesialis kulit.

Saya yakin banyak diantara kita yang sering mendengar istilah peeling untuk kulit, terutama kulit wajah. Antara serem dan penasaran, peeling tuh apa sih? Kulit kita akan dikelupaskan seperti apa? Serem gak?

Peeling kimiawi merupakan suatu mekanisme pengelupasan kulit yang terkendali menggunakan bahan kimia, yang bertujuan untuk merangsang pembentukan jaringan kulit yang baru. Peeling jenisnya macam-macam (salah satunya GA), dengan target kedalaman yang berbeda2, tergantung konsentrasi yg digunakan. Misalkan peeling yang satu sifatnya sangat superfisial dan hanya mengelupaskan lapisan atas kulit, sedangkan peeling yang lain sifatnya lebih dalam dan mengelupaskan hingga ke lapisan yang lebih dalam. Pemilihan jenis peeling akan dilakukan berdasarkan indikasi yang sudah ditentukan oleh dokter SpKK. Peeling ini bisa digunakan untuk pasien berjerawat, pasien dengan keluhan flek hitam, sampai pasien yang ingin mengurangi kerutan dan untuk peremajaan kulit.

Untuk melakukan peeling, biasanya dokter SpKK akan melakukan beberapa pemeriksaaan terlebih dahulu untuk memastikan kamu dapat dilakukan tindakan peeling. Biasanya dokter SpKK akan melakukan "priming" pada kulit kamu terlebih dahulu, semacam persiapan kulit sebelum dilakukan tindakan peeling. Priming biasanya dilakukan berkisar 2-4 minggu sebelum prosedur.

Apa sih gunanya priming?
Priming bertujuan untuk mengurangi healing time, agar peneltrasi bahan kimia lebih merata atau uniform, untuk mengurangi komplikasi setelah peeling, dan yang paling penting, untuk menjamin kepatuhan pasien juga. Priming ini biasanya dengan penggunaan tabir surya dan penggunaan krim malam yang mengandung bahan bleaching agents atau tretinoin. Dengan priming yang tepat, diharapkan peeling akan berefek optimal dengan komplikasi seminimal mungkin.

Jadi, kemungkinan besar peeling akan ditunda bila kamu tiba2 dateng ke dr SpKK dan minta langsung dilakukan peeling bila sebelumnya kulit kamu tidak pernah merawat kulit atau menggunakan krim selanjutnya. Alias jangan pundung kalo peeling tidak langsung bisa dilakukan :D

Setelah baca artikel ini, pengen dipeeling dong ya? Yup, selain peeling ini prosedurnya mudah dan sangat aman, peeling juga merupakan tindakan dengan harga yang umumnya sangat terjangkau. Konsultasikan dengan dokter SpKK kamu agar kamu bisa mendapatkan hasil peeling yang memuaskan. Jangan lupa, peeling ini bukan one-time procedure! Jadi jangan berharap kalau dalam 1 kali peeling saja, lalu keluhan kulit kamu dapat hilang. As everyone knows, beauty skin needs commitment. Peeling harus dilakukan secara rutin untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

So balik lagi ke topik awal, samakah dengan eksfoliator yang ditawarkan berbagai brand?

Pada intinya sama tujuannya, yaitu mengangkat sel-sel kulit yang mati sehingga kulit tampak lebih sehat dan cerah. Hanya tentu saja, konsentrasi yang digunakan pada berbagai produk yang dijual bebas tentunya jauh lebih rendah. Dan bila tidak cocok, bisa saja terjadi iritasi atau justru memperparah keluhan pada kulit, misalnya jerawat justru bertambah parah.

Oleh karena itu, konsultasi ke dokter SpKK tetap harus dilakukan sehingga bisa didapatkan efek yang lebih maksimal. Dan tentu saja aman, karena wajah kamu ditangani langsung oleh yang ahlinya. So jangan ragu lagi untuk mulai peeling yaaa.. makin muda tentu hasilnya makin oke:D hahaha

Keep calm and love your skin. See you later. Xoxo.

September 10, 2017

Ketika... dokter spesialis kulit dan kelamin sama dengan dokter kecantikan?

Saya seringkali mendengar dan melihat bahwa orang-orang di sekitar saya suka menyamakan istilah dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK) dengan dokter kecantikan atau dokter estetik. Sebenernya orang-orang ini enggak salah 100% sih, karena mungkin memang slama ini kebanyakan orang tidak mengerti kalau istilah ini jauh berbeda. Tanpa sama sekali berusaha untuk menyudutkan profesi yang satu atau meninggikan profesi lain, kali ini saya akan sedikit memberi gambaran kenapa dokter SpKK tidak sama dengan dokter kecantikan maupun dokter estetik.

Dokter SpKK adalah dokter yang sudah menempuh pendidikan dokter spesialis selama kurang lebih 8 semester alias 4 tahun. Untuk bisa menjadi seorang residen (yaitu dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis), kita melalui proses yang cukup panjang, yaitu dari ujian tulis hingga wawancara. Ketika sudah diterima, kita akan menjalani pendidikan di RS pendidikan tertentu. Jadi jangan bayangkan kuliahnya hanya duduk dan menerima pelajaran, tapi yang namanya kuliah adalah menjalani setiap divisi atau stase untuk memenuhi kompetensi sebagai seorang SpKK.
Sebagai gambarannya, saya coba terangkan ya apa yang terjadi sehari-hari sebagai residen di kulit (ini mengacu pada tempat saya menuntut ilmu ya):

Pagi hari, biasanya ada acara ilmiah bersama konsulen (alias dosen). Acara ilmiah ini bisa berupa laporan kasus, referat, atau journal reading. Maju sebagai presentan laporan kasus/referat merupakan salah satu syarat di setiap divisi. Dan untuk membuat laporan kasus ini, kami harus bimbingan dengan konsulen, kadang bimbingan sampe malam atau pagi karena pembimbing kami juga dokter SpKK yang sibuk dan banyak pasien :)

Setelah acara ilmiah, kami memeriksa pasien di Poli Kulit sesuai dengan Divisi masing-masing. Ada beberapa divisi yang harus dijalani yaitu:
  1. Infeksi Bakteri dan Parasit. Di sini termasuk di dalamnya penyakit kusta alias lepra. Kenapa saya bold kusta atau lepranya? Ya karena saya bangga dong, siapa lagi spesialis yang bisa menangani kusta? Penyakit penuh stigma yang masih ada di Indonesia dan belum punah juga :(
  2. Infeksi Jamur dan Virus
  3. Alergi dan Immunologi
  4. Infeksi Menular Seksual. Yap, menjadi SpKK juga menangani penyakit2 menular seksual, termasuk yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja yang tidak sehat dan berbahaya. Kami juga bergerak di bidang edukasi untuk perilaku seksual kaum LGBT
  5. Dermatologi Anak
  6. Tumor dan Bedah Kulit
  7. Dermatologi Kosmetik. Oke, di sinilah mungkin kenapa kami sering disamakan dengan dokter estetik. Saya gak bilang salah 100%, karena kami memang belajar kosmetik juga kok. Mulai dari teorinya hingga prakteknya.
  8. Geriatri dan Non-Infeksi
Nah untuk menjalani satu divisi ke divisi lainnya, kita harus menjalani berbagai ujian. Baik ujian tulis mingguan, ujian kasus alias ujian pasien, sampai ujian komprehensif. Dan stelah itu kita harus menjalani ujian board, yang merupakan ujian kompetensi untuk menjadi dokter spesialis kulit. Ujian board ini diuji sama berbagai konsulen di seluruh Indonesia, karena ini bisa dibilang semacam ujian nasional. Seremnya pake banget, cukup membuat aku stres dan hampir gila menjelang ujian :D

Oh dan jangan lupa, untuk lulus pun kami harus penelitian dan bikin tesis! Dan kami juga harus publikasi ke jurnal nasional atau internasional sebagai syarat lulus. Yayaya..jadi bisa dibilang, sekolah spesialis itu cukup melelahkan dan perlu mental sekuat baja :D

Oke kayaknya cukup ya saya menjelaskan bayangan menjadi seorang spesialis kulit dan kelamin. Kalau kayak gini, rasanya udah jelas kalau dokter SpKK dan dokter estetik adalah dua profesi yang berbeda. Which one do you choose? Balik ke pilihan masing-masing ya kalo itu :D

Healthy skin is not a choice, its a way. Ciao and i'll see you in the next post anyway!

August 15, 2017

Ketika... akhirnya SpDV!


Alhamdulillah.

Tepat di tanggal 8 Agustus 2017 (my daddy's bday), aku dinyatakan lulus (lulus booo lulusss akhirnya) sebagai spesialis Dermatologi dan Venereologi (istilah sbelumnya spesialis kulit dan kelamin) dari Dept Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin UNPAD Bandung!

Rasanya gimana?

Oke, di saat sebagian besar orang akan tersedu, menitikkan air mata, nangis saat dinyatakan lulus abis maju tesis.. sperti biasa si emak aneh ini cuman bisa cengar-cengir. UDAH GAK BISA NANGIS LAGI BO! Hahahaha *sombong critanya* eh maksudnya saking udah seringnya nangis *yaaah sebenernya gak sesering itu juga sih nangis, aku nih gini2 kuat lalala*, aku udah gak bisa lagi nangis! Dalam pikiran aku cuman pengen pulang ke rumah, mandi, keramas, ganti daster, bersiin muka *wajib hey!*, bobo sambil ngelonin ayesha dan rashdan. Simpeeeel!

Maka izinkanlah aku berterima kasih pada orang2 di bawah ini (yang gak bisa aku sebutkan satu persatu)--tanpa mengurangi hormat, mhn maaf kalo gelar lengkap gak aku tulis, berhubung ini mah tuluuuusss dari hati, dan dlm hati kita biasanya hanya pake panggilan, gak pake gelar2--

- Para pembimbing tesis, dr Reiva dan dr Unwati untuk segalaaa bimbingannya. Mulai dari dr Reiva yang bela2in bimbing di sela2 kesibukan prakteknya (bulak balik Tivaza sudah biasaaaa..haha) dan dr Unwati yang gak pernah bosan 'meneror' sejak jaman bikin usulan penelitian (sampe kadang aku ngumpet di dlm ruang tindakan pdhl lagi gak ada tindakan hahaha).. Terima kasih doook, gak kebayang kalo aku gak pernah ditagih, mungkin aku skg cmn lagi jd emak rempong depan laptop dan gak tau mau nulis apa :D

- Para penelaah, penguji, moderator tesis aku yaitu dr Lies, dr Oki, dan dr Reti untuk semua masukan dan perbaikannya.

- Seluruh konsulen Dept Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin.. guru2 yang selama ini membimbing dengan ikhlas. Mulai dari aku pengayaan (yang boro2 mikir ilmu kulit! cuman mikir untuk bertahan hidup keesokan harinya hahaha) hingga naik magang 1, magang 2, dan finally mandiri dan SpDV (yang sbenernya masih banyak kurangnya juga, tp aku janji akan terus belajar tsahhhh).

- Teruntuk suamiku, abang ayi. Yang suka kesel kalo aku pulang kemaleman, yang suka aku korbanin kalo aku udh panik (abaaaaang ini LAPTOP KENAPAAAAA? INI PRINTER KOK GAK BISAAAAA? huaaaaaaaa), yang menerima aku dengan segala macam ulahku hingga banyak ngorbanin waktu buat anak dan keluarga.. Ternyata dengan kedodolanku, berhasil juga jd SpDV ya abang huahahahaha *tawa bengis*

- Untuk kedua orang tuaku, ayah dan bunda untuk sgala kasih sayangnya selama ini.. Karena atas semua didikan, dorongan, marah2 (hehe), dan kasih sayang mereka sejak aku masih di dlm kandungan hingga detik ini aku bernafas.. krn jasa mrklah akhirnya aku bisa jd spesialis.. Terima kasih juga untuk ibu dan bapak, mertua aku, karena telah mendukung menantunya ini untuk meneruskan sekolah.

- Rashdan dan Ayesha, malaikat2 yang hadir dalam hidup bunda. Terima kasih karena selama ini telah menjadi anak2 yang AMAT SANGAT KOPERATIF. Ditinggal dari pagi sampe sore, kadang pagi sampai malam, kadang pagi sampai keesokan pagi, kadang pagi sampai keesokan sorenya, kadang selama seminggu.. Gak pernah ada dalam benak bunda, kalo bunda bakal punya anak2 sehebat dan semandiri kalian.. Insya Allah bunda akan membayar smua waktu yang sudah terlewat dengan kalian..

- Dan terakhir untuk orang2 yang gak bisa saya sebutkan satu persatu. Mulai dari adik2ku, bibik Le di rumah yang ngasuh Rashdan dan Ayesha, untuk para residen teman2 seperjuangan, untuk para perawat, untuk semua orang yang berperan dalam hidup aku hingga bisa jadi spesialis..

Akhirnya hanya Allah swt yang bisa membalas kebaikan kalian semua.

Now lets begin a new chapter in life. See ya! *download film dimulai :D :D :D* Eh lupa perbaikan tesis blom. HAHAHAHA.



Punten dok, jangan tanya saya terus dok.. Hihihi...
 



See you!

December 27, 2015

Ketika... gak sabar jadi SpKK!

Well. Banyak orang bertanya, kenapa gue gak nerusin nulis blog mengenai kehidupan residensi (residensi itu sekolah buat jadi spesialis) gw.

Jawabannya.

Tentu gak mungkin dan gak akan pernah.

Bukan, bukannya gue gak bersyukur bs skolah. Gue justru sangat amat bersyukur dapet ksempatan skolah di sini. But hey, menurut gue sekolah menjadi spesialis adalah skolah yang sangat menguras mental dan tenaga *entah lebay atau gak*, dan menuliskan mengenai skolah spesialis dan khidupannya itu sama aja dengan..errrg..killing yourself softly

Jadi kalo ada yang nanya skolah spesialis enak apa enggak?

Hehehe. Tergantung sudut pandang. Dan aku malas menuliskan kehidupan skolah di media umum yang bs dibaca semua orang dan memancing pandangan dan judgement banyak orang.

So kalo penasaran khidupan skolah saya, boleh japri pribadi via email ya.

Xoxo!


February 1, 2015

Ketika...waktunya tamasya ke Taman Safari! (part 2)

Sepulangnya dari Taman Safari, kita mutusin buat nginep di Puncak aja..yippy! Setelah sekian lama gak liburan bareng abang sama Rashdan yang pake nginep2an, rasanya wajar dong kalo aku seneng banget hehe... Kita sempet browsing2 dan berhenti di beberapa penginapan buat survei..dan pilihan jatoh ke Novus Giri Resort and Spa. Harganya lumayan mahal sih.. tapi entah kenapa feeling aku nih hotel bakal worth to try. Kita pesen kamar paling murah yaitu yang superior 1,2 jeti..tapi pas reservasi, ternyata kita dapat bonus diupgrade kamarnya jadi deluxe (yang aslinya harganya skitar 1,5an jeti). Lumayan bangeeeet! *ibu2 perhitungan* Sayang seribu sayang, mesen kamar di sini belum termasuk breakfast :(

Aku gak moto kamarnya, tapi silakan dibuka linknya aja di atas. Pas masuk kamar, kita dapet free mini bar, dapet welcome fruits (lumayan Rashdan makan apelnya 2 biji), dan ada gantungan lucu banget di jendela.
 
Pagi2 setelah sarapan di Puncak, kita balik ke hotel buat main2 dlu sebelum check out. Ada rabbit village ternyata, yang designnya lucuuuu banget!





 Ini foto iseng, abaikan yaaa...
 


Nah kalo foto yang paling bawah ini adalah pas Rashdan main di Kids Club..kbetulan mereka juga fasilitas ini :) Rashdan sih seneng banget, apalagi main balok2an ini hehehe :)

Sebenernya, Novus Giri ini ngasi kita batas check out boleh sampe jam 4 sore. Tapi berhubung ayahnya bsk pagi2 bgt harus ke Pekanbaru lagi, dan bundanya harus ke rumah sakit lagi *nangis guling2 di tanah sambil jambak2 krudung sndiri*, maka kita pulang lebih siang utk menghindari macet. Oh iya, kita dikasi souvenir juga sama Novus Giri pas check out, kayak cemilan gitu di kotak rotan. Lucu! Meski gak suka ma cemilannya, tapi patut diapresiasi deh. Pelayannya juga ramah2 banget.

Sekian dan terima kasih..smoga saya masih bisa posting liburan2 selanjutnya yaaa! *lanjut ngerjain tugasss aaaaarggghhh*